Mahasiswa Hari ini adalah tumpuan harapan bangsa masa depan!!!!
Melihat kondisi mahasiswa hari ini, sedih dan berbagai perasaan berkecamuk dalam fikiran. Realita menunjukan, kehidupan mahasiswa saat ini, penuh dengan kegelamoran, gaya hidup hedonis, dan sifat opurtunis. Padahal, bangsa ini sedang dihadapi berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai. Proses politik yang kian lama kian buruk, ancaman resesi ekonomi global, angka pengangguran yang kian bertambah, biaya pendidikan yang kian mahal beserta atribut diskriminasinya, bencana yang silih berganti, kerusakan moral yang kian parah, dan sebagainya. Adakah mereka menyadarinya????
Menjadi mahasiswa memang memiliki prestis tersendiri. Sebutan “MAHA”, terkadang menimbulkan riya-riya tersendiri bagi yang mengalaminya. Bagaimana tidak? Dari jutaan pemuda yang ada di negeri ini, hanya segelintir yang terpilih untuk bisa menikmati iklim kampus. Namun di balik kebanggan tersebut mahasiswa dibebankan pada amanah yang berat dan besar oleh bangsa ini. MENJADI PENERUS BANGSA MASA DEPAN!!!!!!!
Walau bukan berarti yang tidak menjadi mahasiswa tidak bisa berbuat bagi bangsa, namun kita mendapatkan kesempatan lebih untuk menimba ilmu dan mempersiapkan diri menjadi pewaris sah negeri ini. Berbagai sebutan pun disematkan pada kita. Agent of change, direct of change, moral force, iron stock, dan lain-lain. Untuk memenuhi tugas tersebut, kita pun tidak cukup hanya duduk manis di depan kelas. Apalagi kalau seringnya hanya keluyuran dan selalu datang telat ke kampus. Tetapi kuliah saja tidak cukup, apalagi iklim akademis sekarang kurang membentuk daya fakir kita menjadi mahasiswa yang kritis. Kuliah pun seakan hanya sekedar mencari IP. Namun dengan berorganisasi, aktif dalam pergerakan mahasiswa, mudah-mudahan akan lebih membentuk pola pikir kita, sehingga siap menjalankan amanah bangsa ini. Sejarah telah menunjukkan, para tokoh bangsa ini, pejuang kemerdekaan, lahir dari pergerakan mahasiswa.
Soekarno misalnya, merupakan aktivis Indisce Partij yang terkemuka. Begitu juga dengan Hatta, aktivis gerakan mahasiswa untuk Indonesia di negeri belanda. Tak tanggung-tanggung, mereka mendirikan organisasi pemuda pada usia tujuh belas tahun. Lebih mengejutkan lagi Sema`un, tokoh pergerakan yang banyak dilupakan namanya. Diumur 15 tahun menggerakkan ribuan pedagang batik se-jawa. Saat berumur 14 tahun ia sudah bergabung dalam organisasi politik bernama Sjarekat Islam atau sering disebut SI. Atau kita perlu belajar dari pahlawan tak terlupakan : Tan Malaka, pria kelahiran Sumatera Barat yang memimpin gerakan COMINTERN Asia-Pasifik. Semuanya aktif bergerak ketika menjadi MAHASISWA! Di tangan merekalah masyarakat tersadar bahwa mereka terjajah. Lalu memberontak dan lahirlah kemerdekaan. Jika tidak ada pemuda Indonesia seperti mereka pada pra kemerdekaan, Indonesia tidak akan merdeka di Tahun 1945.
Fenomena yang ada saat ini, memang cukup memperihatinkan. Minat mahasiswa untuk berorganisasi kian lama kian menurun. Kalaupun masih ada, sebagian besar hanya melihat organisasi dari segi enak nggak enaknya saja. Memilih organisasi hanya sebagai hiburan, bukan alat perjuangan.
Di sisi lain organisasi tidak mesti membuat kita lupa akan tugas kuliah kita. Lihat saja para pembesar negeri kita, seperti Hatta, Soekarno, Natsir, apakah mereka melupakan kuliah mereka? Tidak. Bagaimana mungkin Hatta bisa dikenal sebagai bapak koperasi jika ia tidak serius belajar ekonomi waktu kuliah. Bagaimana Tan Malaka bisa mendirikan sekolah rakyat jika ia sendiri tidak pernah belajar dengan serius. Bagaimana M. Natsir bisa disegani seluruh penjuru negeri Timur Tengah jika ia tidak serius kuliah. Bahkan Soekarno pun ditawarkan untuk menjadi tenaga pengajar belanda oleh rector kampusnya. Itu tidak mungkin didapatkannya jika ia tidak serius belajar. Tapi mereka memahami hakikat keberadaan mereka sebagai mahasiswa. Ini yang dirasakan mulai berkurang saat ini. Karena, belajar itu tidak di lihat dari berapa lama, tapi berapa dalam kita belajar.
Oleh karena itu untuk menumbuhkan minat berorganisasi dari para mahasiswa baru, maka Badan Eksekitif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa(KBM) UNIB 2009 menyelenggarakan sebuah program yang disebut Sekolah Kader Bangsa(SKB). Sebuah program yang dijalankan untuk mencetak para organisastoris yang handal dan profesional, yang selanjutnya para aktivis yang handal di UNIB. Outputnya adalah orang-orang yang siap terjun di organisasi intra kampus, menjadi pengurus BEM yang handal dan profesional.
Program ini telah berjalan selama satu semester, dengan konsep seperti perkuliahan dan diisi oleh para instruktur yang handal dan professional dan telah berpengalaman di dunia organisasi. Sekolah ini telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Mudah-mudahan sekolah ini juga akan menumbuhkan Trias tradition mahasiswa yaitu membaca, menulis, dan berdiskusi dengan program kelompok diskusi yang membahas seputar permasalahan yang hangat dikalangan masyarakat.
tQ for tmn2 BEM UNIB yang telah terlibat.....
Salam.....
Hidup Mahasiswa!!!!!!!